Mekanisme Evolusi Lengkap - Evolusi merupakan perubahan makhluk hidup dalam
jangka waktu yang lama dan berlangsung perlahan-lahan. Perubahan ini terjadi
dalam satu populasi dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Dalam suatu lingkungan, sifat-sifat genetik menentukan keanekaragaman makhluk hidup, keanekaragaman ini meliputi struktur, tingkah laku, dan lain-lain. Jika terjadi perubahan materi genetik, maka terjadi perubahan sifat pada keturunanketurunannya. Hal ini menyebabkan munculnya spesies baru. Perubahan materi genetik ini disebut mutasi. Evolusi terjadi karena adanya mutasi dan seleksi alam.
1. Mutasi Gen
Dalam suatu lingkungan, sifat-sifat genetik menentukan keanekaragaman makhluk hidup, keanekaragaman ini meliputi struktur, tingkah laku, dan lain-lain. Jika terjadi perubahan materi genetik, maka terjadi perubahan sifat pada keturunanketurunannya. Hal ini menyebabkan munculnya spesies baru. Perubahan materi genetik ini disebut mutasi. Evolusi terjadi karena adanya mutasi dan seleksi alam.
1. Mutasi Gen
Mutasi gen adalah perubahan kimia gen (DNA) yang dapat
menyebabkan terjadinya perubahan sifat suatu organisme yang bersifat menurun.
Mutasi dapat terjadi dengan adanya pengaruh luar dan tanpa pengaruh faktor
luar. Mutasi yang terjadi tanpa pengaruh faktor luar mempunyai dua sifat, yaitu
sangat jarang terjadi, dan umumnya tidak menguntungkan.
Umumnya, mutasi jarang terjadi dan tidak
menguntungkan. Mutasi merupakan mekanisme evolusi yang penting dan dapat
membentuk spesies baru. Untuk mengetahui hal ini, perlu angka laju mutasi,
yaitu angka yang menunjukkan jumlah gen yang mutasi dari seluruh gamet yang
dihasilkan oleh suatu individu dari suatu spesies.
Angka laju mutasi suatu spesies umumnya sangat rendah
karena faktor-faktor yang menyebabkan mutasi tidak dapat diramalkan secara
pasti. Angka laju mutasi berkisar antara satu gen di antara dua ribu sampai
jutaan gamet, atau rata-rata 1 : 100.000, artinya dalam setiap 100.000 gamet
terdapat satu gen yang mampu bermutasi. Jadi, angka laju mutasi sangat kecil,
tetapi merupakan mekanisme yang penting, karena:
a) setiap gamet mengandung beribu-ribu gen;
b) setiap individu menghasilkan ribuan sampai jutaan
gamet dalam satu generasi; dan
c) jumlah generasi suatu spesies selama spesies itu
ada banyak sekali.
Angka laju mutasi yang menguntungkan lebih kecil dari
pada angka laju mutasi yang merugikan, yaitu perbandingan antara 1 dan 1.000,
artinya dari 1.000 mutasi yang terjadi, satu di antaranya mutasi yang
menguntungkan. Walaupun mutasi yang menguntungkan ini kecil, karena jumlah
generasi selama spesies itu ada sangat besar, maka jumlah mutasi yang
menguntungkan besar pula. Hasilnya, seperti pada contoh soal berikut:
1) angka laju mutasi per gen adalah 1 : 100.000
2) jumlah gen dalam individu yang mampu bermutasi
adalah 1.000
3) perbandingan antara mutasi menguntungkan dengan
mutasi yang terjadi adalah 1 : 1.000
4) jumlah populasi spesies adalah 300.000.000
5) jumlah generasi selama spesies itu ada adalah 6.000
Berapa hasil mutasi yang menguntungkan selama spesies
itu ada?
Jawab:
1) Jumlah mutasi yang menguntungkan yang mungkin
terjadi pada setiap individu: 1/100.000 × 1.000 × 1/1.000 =1/100.000.
2) Dalam setiap generasi akan terjadi mutasi gen yang
menguntungkan 1/100.000 × 300.000.000 = 3.000.
3) Selama spesies itu ada, yaitu 6.000 generasi,
mutasi yang menguntungkan adalah 3.000 × 6.000 = 18.000.000.
Jadi, jelas bahwa mutasi yang menguntungkan selama
periode evolusi tertentu cukup besar. Sehingga, kemungkinan dihasilkannya
spesies yang adaptif menjadi besar pula.
Yang termasuk mutasi yang menguntungkan adalah
dihasilkannya spesies yang adaptif dan memiliki vitalitas dan viabilitas
tinggi. Sedangkan, mutasi yang merugikan adalah dihasilkannya gen letal yang
menimbulkan mutasi letal. Dihasilkan keturunan yang mempunyai viabilitas dan
fertilitasnya rendah dan keturunan yang tidak adaptif.
Gen-gen mutan yang merugikan, umumnya bersifat resesif
sehingga peristiwa mutasi hanya
akan tampak apabila dalam keadaan heterozigot. Hal ini
menunjukkan bahwa seleksi alam hanya bekerja terhadap individu homozigot.
a. Frekuensi gen dan genotip di dalam populasi
Frekuensi gen adalah perbandingan antara gen atau
genotip yang satu dengan gen atau genotip yang lain di dalam satu populasi.
Misalnya, dalam suatu daerah terdapat populasi tanaman berbunga merah MM dan
tanaman berbunga putih mm, yang sama-sama adaptif. Apabila diadakan
persilangan, maka akan diperoleh tanaman dengan fenotip dan genotip tertentu.
2. Hukum Hardy-Weinberg
Hukum Hardy-Weinberg menegaskan bahwa frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi tertentu. Hal ini, dikemukakan oleh Godfrey Harold Hardy (ahli matematika dari Inggris) dan Wilhelm Weinberg (dokter dari Jerman). Kondisi yang dimaksud oleh Hukum Hardy-Weinberg adalah:
Hukum Hardy-Weinberg menegaskan bahwa frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi tertentu. Hal ini, dikemukakan oleh Godfrey Harold Hardy (ahli matematika dari Inggris) dan Wilhelm Weinberg (dokter dari Jerman). Kondisi yang dimaksud oleh Hukum Hardy-Weinberg adalah:
1) Ukuran populasi harus besar
Pada populasi yang kecil, aliran genetik (genetic
drift) merupakan kesempatan fluktuasi dalam gene pool dan dapat mengubah
frekuensi alel. Jadi, ukuran populasi harus besar agar frekuensi alel dalam
gene pool selalu konstan.
2) Ada isolasi dari populasi lain (tidak ada imigrasi
dan emigrasi) Arus gen (gene flow) merupakan transfer alel antarpopulasi yang
berhubungan dengan perpindahan individu atau gamet yang dapat merubah gene
pool.
3) Tidak terjadi mutasi
Perubahan satu alel menjadi alel lainnya, mengakibatkan
mutasi, hal ini dapat mengubah gene pool.
4) Perkawinan acak (random)
Jika individu-individu memilih pasangannya dengan
sifatsifat tertentu (yang diturunkan), maka pencampuran secara acak gamet-gamet
seperti yang diharapkan pada keseimbangan Hardy-Weinberg tidak dapat terjadi.
5) Tidak terjadi seleksi alam
Keberhasilan mempertahankan hidup dan reproduksi dapat
mengubah gene pool karena mendukung adanya perpindahan beberapa alel dengan
mengorbankan alel lainnya. Formulasi hukum Hardy-Weinberg dapat dijelaskan
berikut ini.
Pada suatu lokus, gen hanya mempunyai dua alel dalam
satu populasi. Apabila gen A = p, dan gen a = q, maka secara matematis menurut
hukum Hardy - Weinberg hasil perkawinan Aa × Aa = F2 dapat dituliskan sebagai
berikut:
Aa × Aa masing-masing membuat gamet ½ A dan ½ a,
akan menghasilkan frekuensi genotip anak sebagai berikut:
akan menghasilkan frekuensi genotip anak sebagai berikut:
(1/2
A+1/2a)(1/2A+1/2a)=1/4AA+1/2Aa+1/4aa
Apabila A diganti p dan a diganti q, maka:
(½ A + ½ A) (½ A + ½ A)
= (½ p + ½ q) (½ p + ½ q)
= (¼ p2 + ½ pq + ¼ q2)
= p2 + 2pq + q2
Jadi, resiko genotip = p2 : pq : q2 = 1 : 2 : 1 karena
A + a = 1,
maka p + q = 1, dan p2 + 1pq + q2 = 1.
b. Seleksi alam
Di danau buatan di Amerika Serikat pernah ditemukan
jenis katak berkaki banyak dan jenis katak normal. Katak yang berkaki banyak
fertilitasnya rendah atau mandul dan bersifat resesif. Sedangkan, katak berkaki
normal mempunyai fertilitas normal dan bersifat dominan. Karena katak berkaki
banyak bersifat mandul, maka katak ini dapat dihasilkan dari perkawinan antara
katak berkaki normal heterozigot. Jadi, apabila katak berkaki normal
heterozigot (Nn) dikawinkan dengan yang berkaki normal Nn, maka akan dihasilkan
rasio keturunannya, sebagai berikut:
P Nn >< Nn
F NN : (Nn + Nn) : nn
25% : 50% : 25%
Katak yang bergenotif nn adalah mandul sehingga yang
mampu menghasilkan keturunan yang bergenotif NN dan Nn, atau 75% dari
seluruh populasi.
c. Emigrasi dan imigrasi
Spesies yang menghuni daerah terpisah oleh geografis tertentu, misalnya lautan. Keadaan ini tidak memungkinkan terjadinya perpindahan secara normal dari satu daerah ke daerah yang lain.
Sebagai contoh, spesies Xylocopa nobilis (kumbang
kayu) yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Pulau Sulawesi dan sekitarnya.
Kumbang-kumbang tersebut menunjukkan perbedaan genetik.
d. Rekombinasi dan seleksi
Rekombinasi gen merupakan mekanisme penting untuk
terjadinya evolusi. Rekombinasi genetik berlangsung melalui perkembangan
generatif. Sehingga, reproduksi seksual merupakan faktor penting dalam proses
evolusi.
Seleksi adalah usaha manusia memilih jenis hewan atau
tumbuhan sesuai dengan keinginannya. Umumnya yang diseleksi atau dipilih adalah
jenis yang bersifat unggul. Rekombinasi gen-gen yang terjadi, karena perkawinan
silang merupakan suatu bahan mentah evolusi. Berdasarkan rekombinasi ini
dimungkinkan terbentuknya varietas baru.
4. Timbulnya Spesies Baru
Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis
dan menempati suatu lokasi yang sama. Suatu individu dapat disebut anggota
populasi apabila individu tersebut satu spesies dengan individu lainnya.
Individu berbeda masih dapat disebut satu spesies apabila variasi-variasi yang
ada tidak menjadi penghalang terjadinya pertukaran gen.
Pertukaran gen ini dapat terjadi melalui proses
interhibridasi (persilangan). Jadi, perbedaam morfologi, fisiologi maupun
tingkah laku tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk memisahkan dua populasi
menjadi dua spesies yang berbeda. Terbentuknya spesies baru ini terjadi karena
adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, domestikasi dan poliploidi. Untuk
mengetahui proses terbentuknya spesies baru, mari cermati uraian berikut ini.
a. Isolasi geografi
Apabila beberapa varietas baru hasil dari suatu
rekombinasi faktor genetik dan spesies tertentu menghuni tempat yang berlainan,
maka mereka akan mengalami Keadaan alam yang terpisah ini menghalangi
terjadinya hubungan reproduksi. Hambatan (barrier) seperti ini disebut isolasi
geografi.
Isolasi geografi disebabkan oleh kondisi alam, seperti
laut, gunung, dan gurun pasir. Isolasi geografi dapat memungkinkan terjadinya
pemisahan dua populasi (alapatrih). Dua populasi ini dapat terbentuk karena
masing-masing populasi terpengaruh akumulasi faktor ekstrinsik yang menyebabkan
terjadi isolasi faktor-faktor intrinsik. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya
isolasi reproduksi.
b. Isolasi reproduksi
Isolasi reproduksi merupakan hambatan terjadinya
perkawinan silang antara dua spesies simpatrik. Spesies simpatrik adalah dua
spesies berbeda yang tinggal atau menghuni daerah yang sama. Isolasi reproduksi
dapat terjadi melalui isolasi intrinsik. Mekanisme isolasi intrinsik dapat di
bagi menjadi tiga macam, yaitu:
1) Mekanisme yang mencegah terjadinya perkawinan
sehingga mencegah terjadinya fertilisasi. Isolasi reproduksi yang terjadi
karena isolasi intrinsik, antara lain:
a) isolasi ekogeografi
b) isolasi habitat
c) isolasi iklim atau musim
d) isolasi perilaku
e) isolasi mekanik
2) Mekanisme yang mencegah terjadinya hibrida.
Mekanisme ini beroperasi dengan mencegah terbentuknya hibrida. Isolasi
reproduksi yang terjadi karena isolasi intrinsik, antara lain:
a) isolasi gamet
b) isolasi perkembangan
c) ketidakmampuan hidup suatu hibrida
3) Mekanisme yang mencegah kelangsungan hidup hibrida.
Isolasi reproduksi yang terjadi, antara lain:
a) kemandulan hibrida
b) eliminasi hibrida yang selektif
Untuk lebih memahami mekanisme intrinsik, mari cermati
uraian berikut ini.
1) Isolasi ekogeografi
Bila dua populasi terpisah oleh hambatan fisik
sehingga sulit untuk berhubungan, maka masing-masing populasi akan berkembang
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada suatu ketika keturunannya akan
berbeda, sebab masing-masing telah mengalami perubahan genetik karena pengaruh
lingkungan. Bila suatu ketika dua populasi tersebut berada pada satu
lingkungan, tidak akan mampu mengadakan hibridisasi, karena masing-masing tidak
mampu menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru.
Contohnya, tanaman Platanus occidentalis dan Platanus
orientalis. Kedua populasi tidak dapat mengadakan penyerbukan secara alami,
apabila dilakukan penyerbukan buatan dan menghasilkan keturunan ternyata
fertil.
2) Isolasi Habitat
Isolasi habitat, yaitu isolasi reproduksi yang terjadi
akibat dua populasi simpatrik memiliki habitat berbeda. Contohnya, katak jenis
Bufo fowleri habitatnya di air tenang dan Bufo americanus habitatnya di
kubangan-kubangan air hujan.
Apabila dua populasi tempat tinggalnya dicampur,
masing-masing jenis akan lebih banyak kawin dengan sesama jenisnya dibanding
perkawinan lain jenis. Apabila terjadi perkawinan lain jenis, ternyata
keturunan yang dihasilkannya steril.
3) Isolasi iklim atau musim
Isolasi iklim, yaitu isolasi reproduksi yang terjadi
apabila dua spesies simpatrik memiliki masa pemasakan kelamin pada musim yang
berbeda. Sebagai contoh, Pinus radiata dan Pinus muricata yang banyak hidup di
beberapa daerah di Amerika Serikat sebagai populasi simpatrik secara alami
tidak pernah melakukan hibridisasi. Hal yang sama juga terjadi pada populasi
simpatrik katak jenis Rana. Walaupun hidup pada daerah yang sama, tetapi tidak
terjadi perkawinan atau hibridisasi lain spesies.
4) Isolasi perilaku
Isolasi perilaku, yaitu isolasi reproduksi yang
terjadi apabila dua spesies simpatrik mempunyai pola tingkah laku kawin
berbeda. Contohnya, perilaku kawin pada beberapa jenis ikan.
Ikan X1 : membuat sarang yang digantungkan pada
tumbuhan lain. Sarangnya memiliki dua lubang, untuk masuk dan untuk keluar.
Agar yang betina masuk ke dalam sarang, si jantan menari-nari dengan gerakan
zig zag di depan si betina. Dengan sedikit dorongan, si betina masuk ke dalam
sarang.
Ikan X2 : membuat sarang pada dasar perairan dan hanya
memiliki satu lubang pintu. Agar si betina mau masuk ke dalam sarang, si jantan
melakukan gerakan perkawinan di muka sarang, selanjutnya memaksa si betina
untuk masuk ke dalam sarang.
Perbedaan perilaku kawin pada hewan dapat bersifat visual,
artinya dapat dipertunjukkan dan dapat bersifat auditif atau berupa perbedaan
suara. Bentuk perilaku kawin pada berbagai jenis hewan memiliki kekhasan
sendiri-sendiri. Pada berbagai jenis, si jantan menarik pasangan dengan warna
bulunya, suaranya, dan gerakannya. Untuk mencegah terjadinya keliru pasangan,
pada itik jantan memiliki warna tertentu yang mencolok.
Bentuk perilaku hewan yang bersifat visual lainnya
adalah berupa gerak. Bentuk ini dijumpai pada burung, kepiting, serangga, dan
lain-lain. Kepiting jantan pada masa kawin menaikkan apit besarnya
tinggi-tinggi dan mengangkat badannya sambil berjalan mengelilingi lubang
tempat betina.
Cara mengangkat kaki, badan serta gerakan kepiting
jantan berbeda-beda. Adanya perilaku yang khas, badan serta gerakan kepiting
jantan berbeda-beda. Adanya perilaku yang khas ini agar hewan betina tidak
salah memilih pasangan kawinnya. Pada jangkrik, hewan jantan menggunakan suara
yang berbeda-beda. Hanya hewan betina pasangannya yang sangat mengenal suara
hewan jantan pasangannya.
5) Isolasi mekanik
Isolasi mekanik, yaitu isolasi reproduksi yang terjadi
apabila dua populasi simpatrik mempunyai bentuk morfologi alat reproduksi yang
berbeda. Jadi, isolasi mekanik menyangkut struktur yang menyangkut peristiwa
perkawinan. Isolasi mekanik pada hewan dapat terjadi, antara lain hewan jenis
jantan berukuran jauh lebih besar dari betinanya. Selain itu, struktur alat
kelamin jantan tidak sesuai dengan struktur alat kelamin betinanya. Dalam
beberapa jenis hewan berlaku apa yang disebut sebagai "kunci dan
gembok" (Lock and Key).
Pada hewan Myriapoda genus Brochoria, jenis jantannya
memiliki bentuk alat kelamin yang bervariasi. Sedangkan, betinanya mempunyai
bentuk yang serupa. Pada tumbuhan, isolasi mekanik ini pengaruhnya lebih nyata
dibanding dengan hewan, terutama yang berkaitan dengan penyebar serbuk sari.
Ada kekhususan bentuk bunga dalam hubungannya dengan hewan penyebar serbuk
sari.
6) Isolasi gamet
Isolasi gamet, yaitu isolasi reproduksi yang terjadi
apabila dua spesies simpatrik tidak dapat melakukan fertilisasi. Hal ini
terjadi karena sel gamet jantan tidak mempunyai kemampuan hidup pada saluran
kelamin betinanya.
Sebagai contoh, pada tanaman tembakau inti serbuk yang
jatuh di kepala putik tidak dapat mencapai inti sel telur pada kandung lembaga
atau ovula. Akibatnya, tidak terjadi fertilisasi. Pada percobaan inseminasi
buatan menggunakan objek lalat buah, Drosophilavirilis, Drosophila americana
dan Drosophila spesies lain, mekanisme isolasi gametnya bervariasi.
Bila spermatozoid Drosophila virilis diinseminasikan
ke saluran telur Drosophila americana, ternyata dalam saluran sel telurnya
terbentuk cairan penghambat sehingga spermatozoid tidak dapat bergerak. Pada percobaan
lain terjadi mekanisme yang berbeda. Saat spermatozoid masuk ke saluran
reproduksi saluran tersebut membengkak sehingga spermatozoid mati.
7) Isolasi perkembangan
Isolasi perkembangan, yaitu isolasi yang terjadi
karena embrio hasil fertilisasi dua spesies simpatrik tidak dapat tumbuh dan
segera mati. Isolasi seperti ini banyak dijumpai pada berbagai jenis ikan dan
katak.
8) Ketidakmampuan hidup suatu hibrida
Beberapa jenis populasi simpatrik dapat melakukan
perkawinan. Pembuahan maupun pembentukan embrio dapat berlangsung, tetapi
hibridanya lemah, cacat atau mati sebelum mampu melakukan reproduksi. Dengan
demikian, walaupun berlangsung perkawinan antara dua populasi simpatrik, tetapi
tidak terjadi pertukaran gen. Peristiwa ini dijumpai pada tanaman tembakau.
Isolasi seperti ini sering disebut terbentuknya bastar (hibrida) mati bujang.
9) Kemandulan hibrida
Keledai dengan kuda, atau kambing dengan biri-biri
dapat dikawinkan dan dapat menghasilkan keturunan. Hibrida yang dihasilkan
dapat hidup baik dan normal, tetapi tetap steril atau mandul. Dengan demikian,
dua populasi simpatrik tersebut tidak terjadi pertukaran gen.
10) Eliminasi hibrida karena seleksi
Bisa terjadi dua populasi simpatrik melakukan
perkawinan, dapat terjadi pembuahan, terbentuk embrio bahkan mampu menghasilkan
hibrida yang fertil. Populasi hibrida karena salah pasangan ini, biasanya jauh
lebih sedikit daripada hasil perkawinan populasi spesies. Akibatnya semua
hibrida dapat terdesak sehingga lambat laun mengalami eliminasi (punah). Dengan
demikian, lingkungan akan melakukan koreksi terhadap kekeliruan perkawinan
tersebut.
b. Domestikasi
Domestikasi adalah usaha manusia untuk menjadikan
hewan ternak dari hewan liar dan tanaman budi daya dari tumbuhan liar. Pada
dasarnya, tindakan ini adalah memindahkan makhluk hidup dari lingkungan aslinya
ke lingkungan yang diciptakan manusia. Tindakan ini dapat mengakibatkan
timbulnya jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang menyimpang dari aslinya yang
mengarah terbentuknya spesies baru.
Sebagai contoh, kebiasaan seseorang untuk menyilangkan
dua varietas tanaman atau hewan sejenis. Melalui tindakan penyilangan tersebut,
pada zaman Darwin di Inggris pernah ditemukan 150 varietas merpati. Dari
varietas tersebut ditemukan varietas yang mempunyai penampakan sangat berbeda,
seolah-olah spesies lain. Ada burung dara yang kepalanya bermahkota, ada yang
tidak.
Ada burung dara yang memiliki ekor mirip kipas dengan
jumlah bulu ekor mencapai 40, sedangkan umumnya jumlah bulu ekor burung dara
adalah 12. Adanya domestikasi menyebabkan terjadinya variasi yang mengarah
terbentuknya spesies baru, misalnya pada anjing.
c. Terbentuknya spesies baru karena adanya poliploid
Pada tumbuhan, kadang meiosis berlangsung dalam
keadaan tidak wajar. Misalnya, terjadi nondisjungsi atau gagal berpisah,
terjadi pada anafase sehingga gamet yang dihasilkan membuahi atau dibuahi oleh
sel gamet yang normal (haploid), akan menjadi keturunan yang triploid. Apabila
keturunan semacam ini fertil dan dapat melakukan perkawinan dengan hibrida
sesama tetraploid, maka tidak menutup kemungkinan dihasilkannya turunan yang
poliploid. Dengan demikian, terbentuknya hibrida poliploid dapat terjadi karena
dua hal, yaitu:
a) Autopoliploidi, yaitu peristiwa menggandakan
kromosom tanpa diikuti pemisahan kromosom. Gagalnya pemisahan kromosom ini,
antara lain disebabkan tidak terbentuknya benang spindel pada fase anafase.
Akibat, tidak terbentuknya benang spindel, maka kromatid mengalami peristiwa
gagal berpisah (nondisjunction).
Selain nondisjunction, autopoliploidi juga dapat
terjadi karena adanya peristiwa penggandaan (doubling) dari kromosom. Peristiwa
autopoliploidi ini ditemukan pada tanaman bunga Oenothera lamarchious. Individu
normal memiliki 14 kromosom akibat autopoliploidi dihasilkan Oenothera gigas
yang memiliki 28 kromosom. Jenis tumbuhan tersebut apabila mengadakan
persilangan akan menghasilkan keturunan yang tetap steril. Jadi, keduanya
merupakan spesies yang berbeda.
b) Allopoliploidi, yaitu terbentuknya poliploid dari
persilangan dua individu yang jumlah sel kromosomnya berbeda. Apabila
kromosomnya membentuk sinapsis, maka akan steril. Tetapi, apabila kromosomnya
berpasangan, maka akan mampu berkembang biak atau fertil.
Biasanya, individu triploid (3n) tidak dapat melakukan
interhibridisasi dengan kedua induknya sehingga dianggap sebagai spesies baru.
Umumnya, keturunan yang terbentuk karena allopoliploidi lebih adaptif, lebih
besar, dan lebih kuat. Apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan, maka
yang akan terkena pengaruh adalah spesies diploidnya.
Daftar Istilah
Evolusi = suatu teori yang menjelaskan bahwa
makhluk terbentuk secara tiba-tiba dari benda mati.
Evolusi Biokimia = suatu teori yang menjelaskan
perubahan-perubahan secara perlahan-lahan tentang terbentuknya bahan-bahan
organik dari bahan-bahan anorganik.
Evolusi Biologis = suatu teori yang menjelaskan
perubahan makhluk hidup dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi secara
perlahan-lahan selama jutaan tahunan.
Fosil = sisa-sisa makhluk hidup yang berusia ribuan,
bahkan jutaan tahun yang telah membatu. Fosil dapat berupa batu, dapat berupa
tubuh yang diawetkan secara alami.

Comments
Post a Comment
kuy!! Diskusi