BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Kokas minyak bumi, coke atau yang
disingkat Petcoke adalah bahan padat karbon yang berasal dari penyulingan
minyak bumi paling akhir, dan merupkan salah satu jenis kelompok bahan bakar
yang di dapatkan pada proses perekahan proksi. Coke berasal dari proses
Cracking terakhir dari sebuah rekayasa kimia berbasis Termo yang membagi rantai
panjang hidrokarbon minyak menjadi rantai yang lebih pendek yang terjadi dalam
unit yang disebut unit coker (Coker
Units)
Jenis
lainnya dapat ditemukan pada Batubara, dinyatakan secara ringkas kokas adalah
produk karbonisasi fraksi hidrokarbon yang mendidih dalam keadaan suhu tinggi
yang diperoleh dalam pengolahan minyak bumi (residu berat). Coke juga di
produksi dalam produksi minyak mentah sintesis atau disinkronkn dari bitumen
yang di ekstrak dari minyak kanada dan dari minyak Orinoco ,Venezuela.
1.2.Tujuan Penulisan
1. Sebagai media sosialisasi dan informasi tentang manfaat dan
bebrbagai proses yang terjadi pada coke units
2. Sebagai referensi bagi mahasiswa untuk membuat makalah tentang coke
units
1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penulisan
makalah ini adalah mencakup aspek tentang coke units dan pengolahannya
1.4 Sumber Data
1. Referensi pengertian dan jenis-jenis Coke
2. Referensi Proses dan pemanfaatan coke
1.5. Metode
Metode yang digunakan dalam
penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode tinjauan dari beberapa
sumber yang berkompeten dalam coke Units
BAB
II
TINJAUAN
SECARA TEORITIS
2.1
Defenisi
Kokas
Kokas
merupakan hasil pirolisis dari bahan organik dengan kandungan karbon yang
sangat tinggi yang mana setidaknya bagian di dalam kokas tersebut telah
melewati fase cair atau kristal-cair selama proses karbonisasi dan terdiri dari
karbon non-grafit.
Kebanyakan
bahan-bahan pembentuk kokas adalah karbon yang dapat berbentuk grafit. Struktur
mereka adalah campuran dari tekstur optik dengan berbagai ukuran, dari
isotropik optik hingga anisotropi (-200um diameter). (Bahan Bacaan OJT CE
Meter)
Kokas
merupakan produk yang terbesar tonasenya hasil destilasi batubara. Kebutuhan
akan kokas bergantung pada kebutuhan akan baja. Kira-kira 98 persen produksi
ter batubara didapat dari tanur hasil sampingan. Dewasa ini, dengan banyaknya
aromatik yang dihasilkan industri migas, hasil utama distilasi batubara beralih
menjadi penyediaan kokas untuk industri baja. Walaupun kokas dapat juga dibuat
dari migas, ada dua macam prosedur pengkokasan batubara, yaitu proses sarang
tawon (bee – hive) dan proses hasil samping (by – product). Proses sarang tawon
merupakan proses yang sangat kuno. Pada tabor hasil sampingan, muatan berupa
batubara, yang campurannya diatur dengan teliti, dipanaskan dari dua sisi
sehingga kalor mengalir ke tengah, dengan demikian menghasilkan kokas yang
lebih kecil dan lebih padat dari yang dihasilkan pada tanur sarang tawon.
(George T. Austin, 1985).
Bila
batubara dipirolisis atau di destilasi dengan memanaskannya tanpa kontak dengan
udara, ia akan terkonversi menjadi zat padat, cair, dan gas. Dalam prakteknya,
suhu tanur dijaga diatas 900º C, tetapi bisa juga berkisar antara 500º C sampai
1000º C. Produk utamanya (menurut beratnya) adalah kokas. Jika unit itu
menggunakan suhu 450º C sampai 700º C, proses tersebut disebut karbonisasi suhu
rendah (low- temperature carbonization), sedangkan pada suhu diatas 900º C,
disebut karbonisasi suhu tinggi ( high- temperature carbonization). Kokas
merupakan bahan baku dalam pembuatan anoda karbon yang
akan digunakan dalam
proses elektrolisis sebagai
kutub positif. (Bahan bacaan OJT CE Meter)
2.2
Jenis-jenis
kokas
Jenis-jenis kokas
dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Green Coke adalah hasil karbonisasi padatan
yang utama yang dihasilkan dari pemanasan fraksi karbon pada temperatur dibawah
9000K (juga disebut kokas baku)
b. Calcined Coke adalah kokas yang berasal dari
minyak bumi atau kokas dari hasil pengolahan batubara dengan sebuah fraksi massa
dari hidrogen kurang dari 0,1% berat. Kokas jenis ini dihasilkan melalui
pemanasan dari Green Coke hingga suhu kira-kira 1600 K.
c. Petroleum Coke adalah hasil karbonisasi dari
fraksi didih karbon yang terbentuk dalam proses pengolahan minyak bumi
d. Coal Derived Pitch Coke adalah hasil
karbonisasi padatan yang paling utama dalam industri yang dihasilkan dari
coal-tar-pitch atau ter (aspal).
e. Metallurgical Coke yang dihasilkan melalui
karbonisasi batubara atau campuran batubara pada temperatur hingga diatas 1400
K untuk menghasilkan bahan karbon makroporos yang kuat.
f.
Delayed Coke adalah bentuk yang paling
umum digunakan untuk hasil karbonisasi utama pada fraksi didih hidrokarbon
melalui proses pemasakan kokas. Delayed Coke memiliki tingkat grafit yang lebih
baik dibandingkan dengan kokas yang dihasilkan dengan proses lain bahkan dengan
bahan dasar yang sama. Hasil utama dari delayed coke ini adalah sponge coke dan
needle coke. Shot coke juga dihasilkan seperti timbunan bola dengan diameter
1-2 mm, tapi tidak memiliki nilai jual.
g. Sponge Coke memiliki tekstur optik yang
tak-terorientasi (tak-terarah) dan digunakan sebagai pengisi untuk elektroda
pada industri aluminium.
h. Needle Coke adalah bentuk umum yang digunakan
untuk kokas jenis khusus dengan tingkat grafit yang tinggi yang dihasilkan dari
struktur mikrokristal yang dimilikinya. (Harry Marsh, 1989)
2.3
Pengotor
Kokas dan Pengaruhnya
Kualitas
dan bahan-bahan dari green coke sangat erat hubungannya dengan sumber bahan
mentah dan proses pemasakan kokas. Umumnya minyak mentah yang berasal dari Cina
mengandung sulfur dan vanadium yang rendah tapi tinggi kandungan kalsium,
silikon, dan nikel. 70% sulfur dan 90% dari pengotor logam terkonsentrasi dalam
green coke.
Yang
menarik perhatian bagi para pengguna petroleum coke adalah kadar pengotor di
dalamnya dan struktur fisika dari kokas tersebut. Pengotor tersebut dapat
terbentuk dari elemen-elemen yang terikat secara kimia dalam membentuk kokas.
Molekul-molekul seperti sulfur, vanadium, dan nikel.
Kotoran
(impurities) tersebut juga dapat terbentuk dari elemen-elemen yang memang ada
di dalam kokas tersebut seperti silikon, besi, natrium, dan kalsium.
1. Sulfur : adalah elemen yang paling umum
dijumpai di dalam minyak mentah. Jumlah sulfur dalam petroleum coke sangat
diperhatikan bagi para pengguna. Konsentrasi yang tinggi di dalam kokas yang
membentuk anoda dapat menyebabkan masalah lingkungan pada produksi anoda karena
semua sulfur tersebut dilepaskan dalam bentuk SO2/SO3 ke atmosfer.
2. Vanadium : terkandung di dalam minyak mentah
dan residunya hampir secara kuantitatif ditemukan sebagai senyawa kompleks
purin di dalam kokas. Jumlah vanadium yang ada sangat diperhatikan dalam
pembuatan anoda karena konsentrasi yang tinggi meningkatkan reaktifitas udara
pada anoda. Dalam produksi aluminium (proses peleburan) vanadium dikurangi dan
ditemukan, sebagai pengotor dalam logam tersebut.
3. Nikel : terkandung di dalam minyak mentah dan
seperti vanadium hampir secara kuantitatif dapat ditemukan di dalam kokas.
Layaknya vanadium, nikel akan berakhir di dalam aluminium.
4. Natrium : terjadi sebagai kontaminan dalam
produksi minyak mentah. Jika ini tidak dihilangkan maka natrium akan berakhir
di dalam kokas. Sodium (natrium) memiliki dampak terhadap reaktifitas karboksi
dari anoda.
5. Besi : terjadi sebagai kontaminan yang masuk kedalamnya
dan seperti vanadium dan nikel yang akan berakhir sebagai pengotor dalam
aluminium
6. Kalsium : muncul sebagai senyawa organik
maupun anorganik. Senyawa anorganik ada dalam bentuk CaCl2, CaCO3 dan CaSO4,
sementara senyawa organik Ca terikat kepada asam naftenik dan asam fenolik. Ca
memiliki dampak negatif terhadap reaktifitas CO2 dari kokas. (Liu Fengqin, 2004)
Unsur-unsur
di dalam petroleum coke yang dapat mempengaruhi kinerja anoda dalam proses
elektrolisis dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
|
Elements
|
Typ. Values
|
Metal
Quality
|
Anodes Consumption/ Energy
Consumption
|
Current
Efficiency
|
Pollution
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
S %
|
0.5 -
3.5
|
|
|
|
O
|
|
|
H %
|
0.05 -
0.10
|
|
|
|
O
|
|
|
Si
|
ppm
|
50 –
250
|
O
|
|
|
|
|
Fe
|
ppm
|
50 –
400
|
O
|
|
|
|
|
Ti
|
ppm
|
5 – 10
|
O
|
|
|
|
|
Pb
|
ppm
|
1 – 10
|
O
|
|
|
O
|
|
Ni
|
ppm
|
50 –
220
|
O
|
O
|
|
|
|
V
|
ppm
|
30 –
350
|
O
|
O
|
o
|
|
|
Na
|
ppm
|
30 –
120
|
|
O
|
|
|
|
K
|
ppm
|
5 – 10
|
|
O
|
|
|
|
Ca
|
ppm
|
20 –
100
|
|
O
|
|
|
|
P
|
ppm
|
1 – 10
|
|
|
o
|
|
(Werner K. Fischer, 1995)
Memproduksi kokas dari bahan baku
dengan konsentrasi aspal dan resin yang tinggi akan menghasilkan kokas dengan
konsentrasi pengotor yang tinggi pula seperti sulfur dan vanadium, menjadikan
kokas tersebut tidak sesuai lagi peruntukkannya dalam produksi batangan anoda.
Sebuah bahan baku dengan kandungan molekul aromatik yang tinggi, seperti residu
vakum dengan kira-kira 50% berat karbon aromatik, menghasilkan kokas yang
sesuai untuk elektroda pada proses aluminium. Membuat kokas dari bahan baku
dengan kandungan karbon aromatik yang tinggi akan menghasilkan sebuah kokas
dengan kualitas yang baik, yang dikenal sebagai needle coke.
Beberapa jenis
bahan-bahan dari kokas hasil kalsinasi minyak bumi yang digunakan dalam produksi
elektroda dapat dilihat
pada tabel 2
berikut : (Markus W. Meier, 1996)
|
Property
|
Unit
|
Typical
Value
|
|
Water content Oil content
Grain size >
8 mm 8 - 4 mm
4 - 2 mm
2
- 1 mm
1 - 0.5 mm
0.5 - 0.25 mm
<
0.25 mm
Tapped bulk dens. 2 - 1 mm Grain stability 8 - 4 mm
Density in xylene
Specific electrical resistance
|
wt.
% wt. % wt. % wt. % wt. % wt. % wt. % wt. % wt. % kg/dm3 wt. % kg/dm3
µΩm
|
0.0 –
0.2
0.10
– 0.30
10 – 20
15 – 25
15 – 25
10 – 20
5 – 15
5 – 15
2 – 8
0.80
– 0.86
75 - 90
2.05 –
2.10
460 -
540
|
|
CO2 reactivity loss
1000 C
|
wt. %
|
3 – 15
|
|
Air reactivity at 525 C
|
%/min
|
0.05
- 0.3
|
|
Crystallite size Lc
|
Ǻ
|
25
– 32
|
|
Ash content
|
wt.
%
|
0.10
– 0.20
|
|
Unsur S
|
wt.
%
|
0.5
– 3.5
|
|
V
|
ppm
|
30
- 350
|
|
Ni
|
ppm
|
50
- 220
|
|
Si
|
ppm
|
50
- 250
|
|
Fe
|
ppm
|
50
- 400
|
|
Al
|
ppm
|
50
- 250
|
|
Na
|
ppm
|
30
- 120
|
|
Ca
|
ppm
|
20
- 100
|
|
Mg
|
ppm
|
10
– 30
|
(Markus W. Meier, 1996)
2.4
Kegunaan
Lain dari Kokas
Berdasarkan
pada jenis yang akan diproduksi dan kadar pengotor yang spesifik yang ada dalam
hasil akhir, petroleum coke pada dasarnya digunakan untuk tiga jenis pekerjaan.
Jenis
pekerjaan ini dapat diklasifikasikan sebagai bahan bakar, elektroda, dan
metalurgi. Klasifikasi yang keempat masih relatif baru digunakan, yaitu
gasifikasi, yang masih dalam tahap evaluasi bagi perusahaan-perusahaan tapi
tidak memberikan hasil yang cukup signifikan pada saat ini.
Penggunaan
sebagai bahan bakar
Penggunaan
petroleum coke sebagai bahan bakar umumnya masuk kepada dua kategori, bahan
bakar untuk pembangkit tenaga uap dan bahan bakar untuk pabrik semen. Untuk penggunaan
ini, kokas biasanya dicampur dengan batubara bitumen atau digunakan dalam
kombinasi dengan minyak atau gas. Pada umumnya, kokas sebagai bahan bakar
digunakan dalam kombinasi dengan batubara bitumen memiliki keuntungan sebagai
berikut disamping batubara bitumen itu sendiri :
1. Grinding (penggilingan). Kokas lebih mudah untuk
digiling daripada batubara bitumen, dihasilkan dengan biaya penggilingan yang
lebih murah dan tidak perlu perawatan yang lebih.
2. Nilai Pemanasan (Heating Value). Nilai
pemanasan dari petroleum coke adalah lebih dari 14.000 Btu/lb, dibandingkan
dengan 9000 sampai 12.500 Btu/lb untuk batubara.
3. Kandungan abu. Kandungan abu yang sangat
rendah (kurang dari 0,5 persen berat) dari kokas menghasilkan biaya pengolahan
yang lebih murah.
Penggunaan
Untuk Elektroda
Kadar
sulfur yang rendah, sponge coke dengan kadar logam yang rendah, setelah proses
kalsinasi, dapat digunakan untuk membuat anoda pada industri aluminium.
Industri aluminium merupakan industri satu-satunya yang mengkonsumsi kokas
paling banyak. Untuk setiap pon dari aluminium yang dihasilkan melalui proses
peleburan hampir ½ lb dari kokas hasil kalsinasi yang digunakan.
Needle
coke merupakan petroleum coke yang paling banyak dipesan yang dihasilkan dari
bahan aromatik dengan kandungan sulfur yang rendah. Penggunaan utama dari
needle coke yang dkalsinasi adalah pada pembuatan elektroda grafit untuk dapur
elektrik pada industri baja. (Robert
A. Meyers, 1986)
Pada
dasarnya, anoda prapanggang untuk produksi aluminium terdiri dari sekurang-
kurangnya 65% petroleum coke, 20% batang anoda yang didaur ulang, dan 15% coal
tar pitch sebagai perekat. Bahan dasar lainnya juga digunakan, atau masih
digunakan, sebagai contoh cairan kokas, kokas dari batubara, dan pitch minyak
bumi. Dikarenakan jumlahnya yang relatif kecil, tidak ada satu pun dari bahan
ini yang sangat mempengaruhi dalam produksi anoda. Petroleum coke yang
digunakan untuk pembuatan anoda yang berkualitas dihasilkan dari fraksi minyak
berat (heavy residual) dari minyak mentah, melalui sebuah proses yang dikenal
dengan istilah delayed coking. Viskositas dari cairan hidrokarbon yang
terbentuk pada proses melalui fase transisi dari cairan ke bentuk padat
diperoleh dengan cara cracking, dehidrogenasi, dan polimerisasi.
Kokas
yang “baru” atau green coke yang dihasilkan belum sesuai sebagai kokas pengisi
di dalam elektroda. Kokas ini merupakan sebuah amorf, struktur yang sangat
lemah, termasuk di dalam jenisnya 8 – 15 % berat merupakan hidrokarbon yang
mudah menguap. Kokas ini juga memiliki reaktifitas yang tinggi dan
konduktivitas listrik yang lemah. Sebagai proses lanjutan green coke tadi
dilakukan pemanasan yang ditujukan menjadi kokas pengisi dalam elektroda,
proses tersebut dikenal sebagai kalsinasi. Selama proses kalsinasi hingga
mencapai suhu 13500C, kokas mengecil hingga kira-kira 10 – 14
%
berat dan kandungan senyawa volatil berkurang sampai 0,5% berat.
Senyawa-senyawa yang mudah menguap ini dilepaskan sebagai gas, seperti CH4,
C2H6, H2, H2S, dan CH3SH. Kualitas kokas yang dihasilkan dari kalsinasi
dikendalikan oleh komposisi kimia dari bahan baku sebagaimana parameter
operasional selama proses coking dan kalsinasi. (Markus W. Meyer, 1996)
Penggunaan
metalurgi
Petroleum
coke dengan kandungan sulfur yang rendah (2.5% berat atau kurang) dapat
digunakan dalam metalurgi besi ketika dicampurkan dengan batubara yang rendah
kemampuan menguapnya. Petroleum coke yang digunakan dalam penuangan besi atau
untuk pembuatan baja meningkatkan bahan-bahan dari batubara melalui penurunan
jumlah zat yang mudah menguap dan meningkatkan nilai rata-rata pemanasan. Kandungan
logam dalam kokas tidak menjadi masalah dalam industri metalurgi.
BAB
III
PROSES
SECARA AKTUAL
Sebagai
bentuk komitmen Pertamina untuk memdukung pertumbuhan industri logam alumunium
di indonesia, Pertamina turut menyediakan produk Green Coke dengan kadar sulfur
rendah dan nilai kalori 7.500- 8.500 Kcal/Kg
Green
coke diproses dari senyawa karbon berbentuk padat menggunakan Delayed Cooking
Unit yang mampu mengubah minyak berat (Short residue) menjadi Green Coke dengan
keunggulan
-
Nilai
kalori lebih tinggi dari batubara
-
Penimbunan
mudah dan kurang polusi
-
Proses
pemecahan (grading) lebih rendah
-
Kandungan
abu lebih rendah
Green
coke banyak digunakan untuk bahan baku pembuatan calcined coke sebagai bahan
proses penguraian alumina, selain itu juga digunaan untuk aplikasi bahan bakar
pabrik semen, peleburan logam, dan pembangkit listrik, aplikasi reduktor
peleburan timah
Product
Specification - GREEN COKE
|
Specification
|
Test Method
|
Unit
Measurement
|
Min
|
Max
|
|
Moisture Content
|
SNI 13-3476-94
|
% wt
|
-
|
-
|
|
Volatile Matter
|
SNI 13-3999-95
|
% wt (dry)
|
-
|
14,5
|
|
Ash Content
|
SNI 13-3476-94
|
% wt (dry)
|
-
|
-
|
|
Carbon Content (Fixed)
|
SNI 13-3479-94
|
% wt (dry)
|
80
|
-
|
|
Heating Value
|
SNI 13-3486-94
|
Kcal/K
|
7500
|
-
|
|
Sulfur Content
|
SNI 13-3481-94
|
% wt (dry)
|
-
|
0,7
|
Particle Size + 4 Mesh GLC C18 - 30 -
http://www.pertamina.com/


Green petroleum coke.
Proses
pengolahan niinyak di Pertainina Unit II Dumai. Melalui dua tahapan, tahapan
pertama menghasikkan produk naphta 8%, kerosene dan solar 29 %.
serta long residu 63%. Long residu sekitar 63 % itu terdiri dari I leavy Vacum
Gas oil (HVGO) dan Short Residu. Heavy Vaccum Gas Oil (HVG()) direngkah rnenjadi
kerosene, avtur dan solar. Sedangkan short residu direngkah secara termal
noenjadi LPG. Naphta. Solar. dan green petroeum coke. Pertamina UP Il Dumai
merupakan kilang minyak terbesar yang mengolah short residu menjadi green
petroleum coke.
Green
petrolezun coke dengan unsur kandungan utama adalah karbon banyak dimanfaatkan
sebagai carbon aktif dan sebagai bahan semikonduktor. Green petroleum coke yang
dihasilkan Pertamina UP Il Dumai melalui kilang Delayed Coking Unit (DCU)
dengan kapasitas 35.200 barel per hari mengubah fraksi-fraksi niinyak yang
lebih ringan dengan cara thermal cracking. Dalam termal cracking terjadi
perengkahan hidrokarbon berat menjadi hidrokarbon rantai pendek pada temperatur
tinggi. Padatan green petroleum coke terbentuk dari reaksi polimerisasi rantai
karbon sebagai reaksi samping dari proses endotermik bertemperatur tinggi dan
dikalsinasi pada temperature 1250 oc 
Kadar
kalori yang dimiliki oleh green petroleum coke lebih tinggi dari kadar kalori
yang miliki oleh batu bara. Kadar kalori green petroleum coke adalah 7.500
—8.500 k kal/kg scdangkan batu bara 5.000 - 6.000 k kal/kg dan juga abu Sisa
pembakaran yang dihasilkan oleh green pelroleum coke lebih kecil dari batu bara.
Comments
Post a Comment
kuy!! Diskusi